Tampilkan postingan dengan label Masalah Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Perlukah Obat Penurun Panas Setelah Imunisasi ?

Imunisasi adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin. Vaksin adalah kuman hidup yang dilemahkan, kuman mati atau zat yang bila dimasukkan ke tubuh menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap penyakit tertentu, dimana sistem imun membentuk sel memori yang akan mengingat antigen bakteri atau virus seumur hidup. Bila ada infeksi bakteri atau virus tertentu, sistem imun mampu mengenali dan memberikan perlawanan terhadap infeksi tersebut, sehingga dapat terhindar dari bahaya komplikasi infeksi yang mematikan atau meninggalkan cacat fisik maupun mental seumur hidup.
Produk dari imunisasi adalah antibodi. Dalam proses tersebut terjadi peradangan yang ditandai dengan naiknya suhu tubuh atau demam. Jadi, demam adalah reaksi normal dan tidak perlu khawatir berlebihan pasca pemberian imunisasi. Bahkan hal tersebut menjadi tanda bahwa vaksin bekerja dengan baik dalam tubuh.  Demam pasca imunisasi bersifat ringan dan seringkali tidak membutuhkan penanganan khusus.
Tidak semua vaksin membuat anak demam. Vaksin yang sering membuat demam adalah vaksin DPT terutama karena komponen P atau pertusisnya, vaksin campak dimana demamnya dapat timbul setelah 2 atau 3 hari penyuntikan, vaksin Haemophylus Influenza type B (HiB), vaksin MMR, vaksin Hepatitis B dan vaksin pneumokokus. Umumnya peningkatan suhu tubuh bayi setelah imunisasi antara 38 hingga 40 derajat celcius, dan akan menurun dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari.
Beberapa hal yang dapat dilakukan bila anak mengalami demam seperti :
  1. Berikan cairan atau minuman yang cukup karena peningkatan suhu akan meningkatkan kebutuhan cairan tubuh dan cegah anak agar jangan sampai terjadi dehidrasi yang akan memperparah demam. Bila anak masih menyusui, terus susui dan berikan ASI lebih banyak dari biasanya.
  2. Kenakan anak pakaian yang nyaman, longgar, dan mudah menyerap keringat. Bila bayi, hindari membedong atau memakai selimut yang tebal.
  3. Pada bayi, lakukan kontak kulit ibu dengan bayi (skin to skin contact) atau kangaroo care. Berikan pelukan dan perhatian pada anak sehingga anak tetap merasa nyaman dan terlindungi.
  4. Kompres dengan air hangat pada badan seperti di kening atau ketiak, jangan memberikan kompres dingin karena akan merangsang peningkatan suhu tubuh, membuat anak menggigil dan memicu kejang akibat demam.
  5. Obat penurun panas dapat diberikan pada anak bila suhu tubuhnya melebihi 38 derajat celcius, anak tampak rewel atau tampak kesakitan. Pilihan obat penurun panas yang aman adalah parasetamol atau ibuprofen, dosis pemakaiannya 10 mg sampai 15 mg per kilogram berat badan, diberikan tiga kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat penurun panas dapat dihentikan apabila suhu tubuh anak sudah kembali normal.
  6. Bila demam anak berlangsung 3 hari atau lebih, suhu tubuh tetap tinggi meskipun sudah diberikan obat penurun panas, terjadi tanda-tanda dehidrasi atau memiliki riwayat kejang demam sebaiknya segera periksakan anak ke dokter.

Perlukah Obat Penurun Panas Setelah Imunisasi, antipiretik pasca imunisasi

Meskipun demikian, terdapat data hasil penelitian yang menyatakan bahwa pemberian obat penurun panas (antipiretik) pada saat atau setelah imunisasi dapat mempengaruhi dan atau mengurangi respon imun atau menurunkan konsentrasi antibodi terhadap vaksin pneumokokus. Sehingga jadikan obat penurun panas sebagai pilihan terakhir, gunakan secara bijaksana dengan memperhatikan manfaat dan risiko yang diperoleh.


Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan anak yang masih menggunakan botol susu untuk minum. Apalagi jika umur anak sudah besar, atau sudah ada gangguan pada gigi mereka. Para orangtua seringkali dibuat bingung meskipun berbagai cara dan rayuan telah dilakukan. Semakin besar usia anak, maka semakin sulit untuk melakukan penyapihan dot atau botol susu.
Penggunaan dot pada awal-awal kehidupan sering dikaitkan dengan keinginan yang tinggi dari bayi untuk selalu menghisap sesuatu. Penggunaan dot dianggap bermanfaat, karena akan menenangkan bayi serta memberikan rasa nyaman pada keadaan-keadaan tertentu seperti keinginan untuk mulai tidur, rasa nyeri pada waktu gigi tumbuh, dipisahkan dari ibunya, menurunkan frekuensi menghisap jari. Namun  pada umur setahun, seorang anak sudah harus menghentikan penggunaan dot untuk minum, dan mulai dialihkan ke penggunaan gelas atau cangkir.
Penggunaan dot pada anak jika terlampau lama akan menimbulkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya, seperti gangguan pertumbuhan gigi seperti maloklusi dan karies gigi, lebih mudah mengalami infeksi telinga, anak terlambat bicara karena otot mulut tidak terstimulasi dengan baik.

Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Beberapa tips berikut untuk menyapih dot dan botol susu pada anak :
  1. Ibu dan ayah harus memiliki kesepakatan dan saling mendukung dalam proses penyapihan ini. Begitupun dukungan penuh dari orang-orang yang biasa mengajak anak seperti nenek atau kakeknya atau pengasuh anak. Komitmen bersama sangatlah diperlukan.
  2. Pilihlah waktu yang tepat, jangan menyapih saat anak sedang sakit atau orangtua sedang banyak kesibukan.
  3. Sampaikan niat Anda pada anak jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi. Tawarkan anak secara lembut dan perhatian untuk mengganti botol susu mereka dengan training cup atau gelas. Bila anak belum mau melakukannya, jangan dimarahi. Selalu tawarkan training cup atau gelas saat anak hendak minum.
  4. Ajak anak untuk memilih training cup atau cangkir sesuai dengan kesukaannya. Jadikan saat ini sebagai peristiwa yang menyenangkan dan sebagai awal mereka mengubah kebiasaannya.
  5. Saat anak lapar atau haus lakukan trik ini. Berikan dua pilihan pada anak, segelas penuh susu atau sedikit susu pada botol susu. Minta anak memilih. Jika anak sedang lapar, tidak ada pilihan, harus mau minum dari gelas. Jika anak Anda menolak gelas, berikan saja botol yang diisi sedikit susu. Jika anak meminta lebih banyak lagi, tawarkan susu yang ada di gelas lagi. Dan jika anak menolak lagi maka Ansa bisa mengganti susu yang ada di botol dengan air dan isi sedikit saja pada botol. 
  6. Jika anak punya kebiasaan minum botol susu sambil tidur, gantilah dengan mainan, boneka, dan membaca cerita sebelum tidur. Dan sebelum anak tidur, Anda dapat memberikan minuman atau makanan supaya ia kenyang sepanjang tidurnya. 
  7. Cara yang efektif adalah dengan menyingkirkan botol susu, pastikan anak melihat saat Anda melakukannya. Katakan pada anak bahwa Anda akan memberikan botol tersebut kepada anak lain yang lebih membutuhkan. Biarkan anak mengerti tujuan Anda dan libatkan anak untuk melakukannya. Ada pula cara lain, seperti sengaja membuang didepan anak sebagai “hukuman” atas ketidakpatuhannya. Jika anak merengek menangis minta botol susu, ajaklah ia bermain, bisa juga berikan makanan padat seperti biskuit agar keinginan untuk minum dari botol dapat terlupakan.
  8. Hal yang paling terpenting yang harus orangtua, keluarga dan pengasuh lakukan adalah memberikan ucapan selamat dan pujian pada anak yang sudah mampu meninggalkan kebiasaan menggunakan botol susunya. Pujian akan membuat anak semakin percaya diri dan merasa disayangi.

Mengenal Perawatan Metode Kanguru

Perawatan Metode Kanguru (PMK) atau Kangaroo Mother Care (KMC) adalah cara perawatan bayi dengan menggendong bayi lekat ke dada ibu, layaknya induk kangguru memasukkan anaknya ke dalam kantung, tanpa ada batas kain (skin to skin contact), sehingga ada kontak langsung antara kulit bayi dan kulit ibu dan merupakan alternatif pengganti inkubator yang bertujuan mempertahankan suhu bayi stabil dan optimal (36.5o – 37.5oC). Awalnya metode ini hanya diperuntukkan bagi bayi prematur dengan berat badan yang kurang (BBLR), karena terbukti efektif meningkatkan berat badan bayi dengan cepat dan optimal, serta dapat menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan bayi prematur. Namun, sekarang metode kangguru ini tidak terbatas bagi mereka yang melahirkan bayi prematur dan berat badan kurang saja, namun dilakukan juga pada bayi normal, baik yang lahir secara normal melalui vagin, maupun melalui bedah cesar. Bahkan, pelaksanaan proses inisiasi menyusui dini, merupakan salah satu penerapan dari metode kanguru.
Perawatan metode kanguru dapat dilakukan pada bayi tanpa kelainan atau penyakit penyerta, tidak mengalami kesulitan bernafas dan minum, tidak kejang, tidak diare dan yang terpenting ibu atau keluarga bersedia, dan tidak sedang sakit.
Metode kanguru terdiri dari empat komponen yaitu pemberian ASI (nutrition), dukungan terhadap ibu (support), posisi kanguru (position) dan pemantauan (discharge). Prinsip metode kanguru ini adalah skin-to-skin contact dimana terjadi kontak kulit diantara ibu dan bayi secara dini, terus-menerus bertujuan agar bayi kecil tetap hangat dan mencegah hipotermi.  Dengan metode ini terjadi kontak emosional yang erat antara ibu dan bayi sehingga produksi asi meningkat akibat adanya refleks letdown oleh hormon oksitosin dalam tubuh ibu. Bayi dapat langsung menghisap ASI dari payudara ibu dengan sedikit mengubah posisi. Kangaroo support merupakan bentuk  bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari suami, tenaga kesehatan maupun keluarganya, agar ibu  dapat melakukan perawatan metode kanguru untuk bayinya. Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan ayah, saudara atau petugas kesehatan. Bila tidak ada yang menggantikan, bayi diberi pakaian hangat dan topi, dan diletakkan di boks bayi dalam ruangan yang hangat.
Posisi kanguru adalah  menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, tanpa busana.  Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk (seperti kodok). Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah. Posisi kepala seperti ini bertujuan untuk  menjaga agar saluran napas tetap terbuka dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara  ibu dan bayi.  Tutupi bayi dengan pakaian ibu ditambah selimut yang sudah dihangatkan sebelumnya, kemudian lilitkan selendang di perut ibu agar bayi tidak terjatuh. Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dia dapat menggunakan handuk/kain (dilipat diagonal, dan difiksasi dengan ikatan atau peniti yang aman di baju ibu), kain lebar yang elastis, atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi. Di indonesia sudah ada kain gendong khusus yang memiliki celana bayi menempel. Besarnya setinggi bayi, kemudian sisi kanan dan kirinya ada dua pasang tali. Untuk menggunakannya, bayi dimasukkan ke dalam celana kain gendong tersebut tanpa baju, kemudian badan bayi ditempelkan ke badan ibu dan pasang tali dengan rapat. 
Perawatan metode kanguru, bayi BBLR, mencegah hipotermi pada bayi
Cara memposisikan bayi pada Perawatan Metode Kanguru

Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri, duduk, jalan, makan, dan mengobrol. Sedangkan bila ibu menginginkan tidur, posisi ibu setengah duduk atau dengan meletakkan beberapa bantal dibawah punggung ibu.
            Pemantauan yang dilakukan selama perawatan metode kanguru adalah suhu tubuh bayi, pernapasan, ada atau tidaknya tanda bahaya, kecukupan bayi mendapatkan ASI, pertumbuhan dan perkembangan dengan cara pengukuran berat badan bayi selama perawatan.
Perawatan metode kanguru ini memiliki manfaat berbagai manfaat seperti : dapat menstabilkan suhu tubuh, laju pernapasan, dan laju denyut jantung bayi, pertumbuhan dan perkembangan bayi lebih baik, risiko terinfeksi penyakit lebih kecil, waktu tidur lebih panjang, bayi menjadi jarang menangis, mempermudah menyusu ASI langsung pada ibunya, meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif, memperkuat ikatan emosional ibu dan bayi, mempersingkat masa perawatan di rumah sakit dan banyak manfaat lainnya.
Kriteria keberhasilan perawatan metode kanguru adalah jika suhu tubuh bayi stabil dan optimal (36,5oC -37,5oC), terjadi kenaikan berat badan stabil pada bayi, produksi ASI adekuat, proses tumbuh dan berkembang bayi berlangsung secara baik.


Untuk mencegah kekerasan dan pelecehan pada anak, sebaiknya orang tua harus memberikan pendidikan seks dini sesuai dengan usia anak. Kebanyakan orang tua segan bicara soal seks dengan anak karena menganggap seks adalah sesuatu yang tabu. Padahal, dari sudut pandang psikologi, seks adalah sesuatu yang normal dan alami. Pendidikan seks dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Lebih awal lebih baik dan tentunya harus sesuai dengan porsinya masing-masing. Supaya menghindari rasa canggung, gunakan kesempatan sehari-hari untuk membahas tentang topik ini. Berikut beberapa cara hal yang dapat Anda ajarkan pada anak-anak :
  1.  Ajarkan anak untuk selalu terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Buat anak selalu bercerita perasaannya baik saat senang, sedih, takut dan gembira. Orang tua pun wajib menyediakan waktu bagi anak untuk mendengarkan cerita dan pengalaman yang mereka alami. Sehingga tidak ada hal yang tidak Anda ketahui tentang anak.
  2.  Ajari sikap berani pada anak. Ajarkan anak-anak jangan takut jika diancam seseorang atau diiming-imingi imbalan tertentu. Tegaskan anak untuk berani melaporkan ancaman tindakan kekerasan kepada orang yang dapat melindunginya, seperti orang tua, petugas keamanan, guru di sekolah, Jika anak diperlakukan tidak baik oleh seseorang, dia harus berani menolak.
  3.  Ajari anak untuk membedakan antara orang asing, kenalan, sahabat, teman, kerabat atau saudara. Beritahu mereka agar tidak menerima ajakan atau pemberian dari orang asing, misalnya permen, uang, mainan, boneka, dan sebagainya. Bila ada orang tak dikenal menyentuhnya, sebaiknya segera menghindar atau menjauh dari orang tersebut.
  4. Ajari anak bagian tubuh pribadi. Ajarkan fungsi dan nama dari tiap organ tubuhnya. Tidak masalah jika ia menyebut vagina, penis atau payudara, bahkan Anda perlu menghindari menggunakan istilah untuk menyebut organ vitalnya seperti “burung”, “anu” dan sebagainya karena hal itu malah bisa membuat anak bingung. Pesankan bahwa bagian pribadi yang mereka miliki harus dijaga baik-baik dan tidak boleh dipegang sembarang orang. Jika seseorang mencoba memegangnya, ajarkan anak untuk berteriak dan lari sekencang-kencangnya.
  5. Ajari anak mengenai sentuhan. Hal ini sangatlah penting untuk diketahui anak. Berikan pengertian pada anak tentang sentuhan yang baik dan buruk. Sentuhan yang baik dilakukan secara halus pada bagian tubuh yang boleh disentuh dan dengan tujuan yang jelas , misalnya ciuman saat pamit ke sekolah, pelukan selamat datang dari sekolah, dan juga berjabat tangan dengan orang lain. Sentuhan yang buruk adalah sentuhan yang kasar, memaksa, dan menyentuh bagian yang dilarang. 
  6. Bagian atas yaitu kepala sampai ke pundak dan bagian bawah mulai lutut sampai kaki adalah bagian yang boleh disentuh oleh orang lain. Bagian perut dan dari paha ke lutut adalah bagian abu-abu. Bagian abu-abu artinya anak harus tetap waspada pada maksud dan tujuan sentuhan di bagian ini. Sedangkan bagian dada (perempuan) serta alat kelamin dan pantat adalah bagian yang sama sekali tidak boleh disentuh oleh siapa pun, dan kalau seseorang melakukan sentuhan di area ini, anak harus berani menolak.
  7.  Ajari anak untuk berpakaian yang sopan dan menutup aurat. Jangan berikan mereka perhiasan atau aksesoris yang berlebihan untuk melindungi anak dari kejahatan.
  8. Ajarkan anak tentang nilai-nilai agama. Nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan untuk menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, kebaikan pada anak.
  9. Bagi para orangtua perlu mengawasi semua kegiatan anak. Pengawasan orangtua sangat diperlukan untuk mencegah anak dari segala bentuk kejahatan. Awasi semua kegiatan anak, baik di rumah maupun di luar rumah.



Mengenali Tanda dan Gejala Kekerasan Seksual pada Anak

Akhir-akhir ini berbagai media massa sedang hangat memberitakan tentang berbagai kasus kekerasan pada anak. Secara sederhana kekerasan anak dibagi menjadi kekerasan secara fisik, verbal, emosional dan kekerasan seksual. Kekerasan seksual adalah segala bentuk tindakan atau ancaman tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa, remaja, atau anak yang lebih tua pada anak berusia di bawah 18 tahun. Bentuk kekerasan seksual pun beragam, mulai dari memperlihatkan alat kelamin pada anak, rabaan di wilayah kelamin atau payudara, penetrasi vaginal/anal/oral, dipaksa untuk menjadi obyek pornografi. Anak-anak seringkali menjadi korban kekerasan karena mereka polos dan tak berdaya, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang dewasa.
Pelaku pada umumnya adalah orang-orang terdekat atau yang dikenal korban, meskipun bisa saja dilakukan oleh orang yang baru atau tidak dikenal. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan bujukan (akan diberi permen/uang), tipuan (pura-pura diajak bermain atau untuk melipur pelaku), atau ancaman maupun paksaan dengan kekuatan fisik.
Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Anak dapat berubah perilakunya seperti sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, adanya gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk), menarik diri, tampak murung atau depresi, mudah marah atau tersinggung serta berperilaku regresif, seperti mengisap jempol, mengompol, buang air besar tidak pada tempatnya dan sebagainya. Pada anak usia sekolah terkadang memperlihatkan tanda-tanda perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu. Sedangkan pada remaja dapat timbul kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa. Kadang anak juga menyampaikan adanya keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, lemas, sakit perut, sembelit tanpa sebab yang jelas.
Adanya luka yang tidak sesuai dengan cerita / kejadian, mungkin bisa menjadi petunjuk kearah kekerasan pada anak. Tanda-tanda fisik yang ditemukan dapat berupa memar atau pada alat kelamin atau dubur, nyeri saat kencing atau buang air besar, penyakit kelamin seperti gatal, keluar sekret atau perdarahan pada kelamin, dan memar pada mulut atau sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral. Dampak kekerasan pada anak bisa terjadi pada jangka pendek maupun jangka panjang, dari luka ringan hingga depresi mental, PSTD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dapat terjadi selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup, hingga kematian.
Apabila kekerasan seksual sudah terlanjur dialami oleh anak, sebaiknya orangtua mengupayakan pertolongan medis dan melakukan pemeriksaan fisik terkait kemungkinan cedera yang dialami. Selain itu orangtua juga dapat mengupayakan pertolongan psikologis pada anak, melalui konseling maupun proses psikoterapi jika memang dibutuhkan. 

 Sebagai tindakan pencegahan terhadap kekerasan seksual pada anak-anak, dapat dilakukan pencegahan dengan cara memberikan pengertian pada anak agar tidak mengikuti bujukan atau rayuan untuk ikut bermain, pulang ke rumah, atau jalan-jalan bersama dari orang yang tidak dikenal. Selain itu orangtua hendaknya mulai memberikan pendidikan seks yang disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak sehingga diharapkan dapat meminimalkan risiko terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Epistaksis, yang lebih dikenal sebagai mimisan adalah suatu keadaan dimana darah keluar dari hidung secara tiba-tiba akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada hidung.  Anak-anak kerap mengalami mimisan karena struktur selaput lendir dan pembuluh darah di hidung lebih tipis dan sensitif sehingga lebih rentan mengalami  gangguan. Gangguan mimisan umumnya akan berkurang seiring bertambahnya umur karena dengan semakin bertambahnya umur, pembuluh darah dan selaput lendir di hidung sudah semakin kuat, hingga tak mudah pecah.
Penyebab mimisan pada anak dapat berupa trauma dan non trauma. Trauma dapat disebabkan oleh adanya benturan atau gesekan yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada hidung. Penyebab non trauma bisa berupa kelainan pada septum hidung. Selain itu mimisan juga dapat terjadi pada anak dengan riwayat alergi. Karena alergi akan memicu anak untuk mengucek hidung secara berlebihan, serta terjadinya bersin-bersin akan mempermudah pecahnya pembuluh darah di hidung. Mimisan juga dapat terjadi akibat perbedaan suhu udara yang drastis misalnya berpindah dari udara panas lalu masuk ke ruangan ber-AC atau sebaliknya. Flu, membuang ingus terlalu keras serta, infeksi seperti sinusitis, demam berdarah, tifus serta campak juga dapat menyebabkan terjadinya mimisan.
Mimisan umumnya tidak berbahaya selama mimisan tersebut berhenti spontan dengan perdarahan yang minimal, anak terlihat sehat dan aktif serta tidak adanya keluhan sesak nafas. Meski pada umumnya kasus mimisan tidak berbahaya, orangtua hendaknya waspada jika frekuensi mimisan pada anak cukup sering terjadi, karena ada kemungkinan anak mengidap penyakit berbahaya seperti ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), demam berdarah, leukemia, talasemia berat, hemofilia atau tumor pada hidung.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah pertolongan pertama untuk mengatasi mimisan :
  1. Jangan panik, posisikan anak duduk atau posisi kepala lebih tinggi dari jantung, jangan dibaringkan untuk mencegah darah kembali masuk ke hidung.
  2. Kemudian minta anak untuk bernafas melalui mulut.
  3. Tekan atau jepit semua bagian lunak hidung secara bersama-sama dengan jempol dan jari telunjuk. Lakukan hal tersebut selama 5 menit, ulangi beberapa kali sampai pendarahan berhenti.
  4. Kompreskan es batu yang sudah diremukkan dan dibungkus dengan kain pada hidung dan pipi.

Tanda bahaya yang harus diwaspadai sehingga Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter atau rumah sakit terdekat yaitu jika setelah 15 menit setelah pertolongan pertama masih terjadi mimisan, atau anak tampak pucat, berkeringat dingin atau kurang berespons terhadap lingkungan, jumlah darah yang keluar sangat banyak, anak menjadi sesak dan sulit bernafas, serta mimisan yang terjadi setelah adanya benturan yang keras pada daerah hidung/wajah.

Tips yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya mimisan pada anak, seperti :
  1. Jangan biarkan anak mengorek hidungnya, bila sedang pilek jangan mengeluarkan ingus terlalu keras
  2. Jauhkan anak dari asap rokok ataupun bahan kimia lainnya serta pencetus alerginya
  3. Awasi anak saat bermain, untuk mencegah terjadinya kecelakaan, serta jangan sampai anak memasukkan benda kecil ke dalam lubang hidung.
  4. Hindari anak dari cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  5. Perbanyak konsumsi buah dan sayur terutama saat anak sakit.

More

Whats Hot