Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
SUPLEMENTASI VITAMIN A, PEMBERIAN DAN MANFAATNYA

Bulan Februari dan Agustus dikenal sebagai Bulan Vitamin A, dimana seluruh anak yang berusia 6 bulan sampai 59 bulan akan mendapatkan vitamin A gratis di Posyandu atau Puskesmas. Menurut data WHO, diperkirakan terdapat 250 juta anak pra-sekolah di seluruh dunia mengalami kekurangan vitamin A. Setiap tahun terdapat sekitar 250.000 – 500.000 anak mengalami kebutaan dan separuh anak ini kemudian meninggal dalam jangka waktu 12 bulan akibat kekurangan vitamin A. Di Indonesia program suplementasi vitamin A aktif dikampanyekan sejak tahun 1970-an dan masih terus digalakkan hingga saat ini.
Vitamin A atau retinol adalah salah satu vitamin yang larut dalam lemak, di dalam tubuh disimpan di hati. Vitamin A berfungsi dalam proses pembentukan dan pertumbuhan sel darah merah, sel limfosit dan antibodi sehingga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Vitamin A juga bermanfaat bagi kesehatan mata dan kulit, menjaga kesehatan mukosa saluran pernafasan, berperan dalam proses perkembangan embrio dan reproduksi. Vitamin A juga merupakan antioksidan kuat yang dapat menangkal radikal bebas berbahaya bagi tubuh.
Vitamin A pada anak, vitamin A pada ibu nifas, Vitamin A pada penyakit campak

Suplementasi secara berkala vitamin A dosis tinggi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan terhadap vitamin A, mencegah defisiensi vitamin A, dan untuk membangun cadangan vitamin A dalam hati. Pemberian 200.000 IU (dosisi tinggi) kepada anak usia 6-59 bulan akan memberikan pengaruh pencegahan selama 3 hinggga 6 bulan atau bergantung pada ketergantungan vitamin A dalam bahan pangan dan kecepatan dalam menggunakan vitamin tersebut. Selain itu pemberian vitamin A pada anak memberikan berbagai manfaat, diantaranya mengurangi angka kesakitan, mengurangi angka kematian akibat infeksi campak, diare, mencegah rabun senja, xeroftalmia, kerusakan kornea dan kebutaan, meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan infeksi, serta mencegah anemia.
Lantas bagaimana pada bayi dibawah usia 6 bulan, apakah juga diperlukan suplemen vitamin A ? Sesungguhnya pada bayi yang usianya belum genap 6 bulan, sumber vitamin A sepenuhnya diperoleh dari ASI, terutama bila ibunya mendapatkan suplemen vitamin A selama hamil dan setelah melahirkan. Namun jika pemberian ASInya tidak mencukupi dan selama hamil atau saat masa nifas, ibu tidak mendapatkan vitamin A, maka bayi dapat diberikan vitamin A dengan dosis 25.000 IU yang diberikan pada interval 2-3 bulan dengan maksimal pemberian 3 dosis, hingga bayi berumur 6 bulan dan bisa diberikan vitamin A dosis 100.000 IU (kapsul biru).
Suplementasi vitamin A juga diberikan kepada ibu nifas (ibu yang baru melahirkan hingga periode 6 minggu setelah melahirkan). Akibat kehilangan sejumlah darah saat proses persalinan, seorang ibu nifas dapat juga mengalami kekurangan vitamin A dalam tubuhnya. Sehingga pemberian vitamin A dosis tinggi dengan dosis 200.000 IU (kapsul merah) perlu dilakukan. Disamping itu pula, pemberian kapsul vitamin A pada ibu setelah melahirkan dapat meningkatkan status vitamin A dan jumlah kandungan vitamin tersebut dalam ASI. Dosis pemberiannya sebanyak dua kali, yaitu segera setelah melahirkan sebanyak satu kapsul 200.000 IU, dilanjutkan satu kapsul pada hari berikutnya minimal 24 jam sesudah kapsul pertama, dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian. Dengan dosis ini maka akan menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi, berkurangnya penyakit infeksi paska persalinan, mencegah gangguan penglihatan seperti rabun senja, mempercepat proses pemulihan dan mencegah anemia.
Pemberian vitamin A dosis tinggi selain diberikan pada anak usia dibawah 5 tahun setiap enam bulan, ibu hamil dan ibu nifas, juga diberikan pada keadaan tertentu seperti pada anak dengan kasus xeroftalmia, campak dan gizi buruk (marasmus, kwashiorkor dan marasmik kwashiorkor). Dosis pemberiannya disesuaikan dengan umur anak, diberikan pada hari pertama (saat ditemukan), hari kedua dan dua atau empat minggu kemudian.
Vitamin A ini diberikan secara gratis dan dapat diperoleh di seluruh sarana fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas  pembantu (Pustu), polindes/poskesdes, balai pengobatan, praktek dokter/bidan swasta), posyandu, sekolah Taman Kanak-kanak, Pos PAUD termasuk kelompok bermain, tempat penitipan anak, dan sebagainya.


Perlukah Obat Penurun Panas Setelah Imunisasi ?

Imunisasi adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin. Vaksin adalah kuman hidup yang dilemahkan, kuman mati atau zat yang bila dimasukkan ke tubuh menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap penyakit tertentu, dimana sistem imun membentuk sel memori yang akan mengingat antigen bakteri atau virus seumur hidup. Bila ada infeksi bakteri atau virus tertentu, sistem imun mampu mengenali dan memberikan perlawanan terhadap infeksi tersebut, sehingga dapat terhindar dari bahaya komplikasi infeksi yang mematikan atau meninggalkan cacat fisik maupun mental seumur hidup.
Produk dari imunisasi adalah antibodi. Dalam proses tersebut terjadi peradangan yang ditandai dengan naiknya suhu tubuh atau demam. Jadi, demam adalah reaksi normal dan tidak perlu khawatir berlebihan pasca pemberian imunisasi. Bahkan hal tersebut menjadi tanda bahwa vaksin bekerja dengan baik dalam tubuh.  Demam pasca imunisasi bersifat ringan dan seringkali tidak membutuhkan penanganan khusus.
Tidak semua vaksin membuat anak demam. Vaksin yang sering membuat demam adalah vaksin DPT terutama karena komponen P atau pertusisnya, vaksin campak dimana demamnya dapat timbul setelah 2 atau 3 hari penyuntikan, vaksin Haemophylus Influenza type B (HiB), vaksin MMR, vaksin Hepatitis B dan vaksin pneumokokus. Umumnya peningkatan suhu tubuh bayi setelah imunisasi antara 38 hingga 40 derajat celcius, dan akan menurun dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari.
Beberapa hal yang dapat dilakukan bila anak mengalami demam seperti :
  1. Berikan cairan atau minuman yang cukup karena peningkatan suhu akan meningkatkan kebutuhan cairan tubuh dan cegah anak agar jangan sampai terjadi dehidrasi yang akan memperparah demam. Bila anak masih menyusui, terus susui dan berikan ASI lebih banyak dari biasanya.
  2. Kenakan anak pakaian yang nyaman, longgar, dan mudah menyerap keringat. Bila bayi, hindari membedong atau memakai selimut yang tebal.
  3. Pada bayi, lakukan kontak kulit ibu dengan bayi (skin to skin contact) atau kangaroo care. Berikan pelukan dan perhatian pada anak sehingga anak tetap merasa nyaman dan terlindungi.
  4. Kompres dengan air hangat pada badan seperti di kening atau ketiak, jangan memberikan kompres dingin karena akan merangsang peningkatan suhu tubuh, membuat anak menggigil dan memicu kejang akibat demam.
  5. Obat penurun panas dapat diberikan pada anak bila suhu tubuhnya melebihi 38 derajat celcius, anak tampak rewel atau tampak kesakitan. Pilihan obat penurun panas yang aman adalah parasetamol atau ibuprofen, dosis pemakaiannya 10 mg sampai 15 mg per kilogram berat badan, diberikan tiga kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat penurun panas dapat dihentikan apabila suhu tubuh anak sudah kembali normal.
  6. Bila demam anak berlangsung 3 hari atau lebih, suhu tubuh tetap tinggi meskipun sudah diberikan obat penurun panas, terjadi tanda-tanda dehidrasi atau memiliki riwayat kejang demam sebaiknya segera periksakan anak ke dokter.

Perlukah Obat Penurun Panas Setelah Imunisasi, antipiretik pasca imunisasi

Meskipun demikian, terdapat data hasil penelitian yang menyatakan bahwa pemberian obat penurun panas (antipiretik) pada saat atau setelah imunisasi dapat mempengaruhi dan atau mengurangi respon imun atau menurunkan konsentrasi antibodi terhadap vaksin pneumokokus. Sehingga jadikan obat penurun panas sebagai pilihan terakhir, gunakan secara bijaksana dengan memperhatikan manfaat dan risiko yang diperoleh.


Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan anak yang masih menggunakan botol susu untuk minum. Apalagi jika umur anak sudah besar, atau sudah ada gangguan pada gigi mereka. Para orangtua seringkali dibuat bingung meskipun berbagai cara dan rayuan telah dilakukan. Semakin besar usia anak, maka semakin sulit untuk melakukan penyapihan dot atau botol susu.
Penggunaan dot pada awal-awal kehidupan sering dikaitkan dengan keinginan yang tinggi dari bayi untuk selalu menghisap sesuatu. Penggunaan dot dianggap bermanfaat, karena akan menenangkan bayi serta memberikan rasa nyaman pada keadaan-keadaan tertentu seperti keinginan untuk mulai tidur, rasa nyeri pada waktu gigi tumbuh, dipisahkan dari ibunya, menurunkan frekuensi menghisap jari. Namun  pada umur setahun, seorang anak sudah harus menghentikan penggunaan dot untuk minum, dan mulai dialihkan ke penggunaan gelas atau cangkir.
Penggunaan dot pada anak jika terlampau lama akan menimbulkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya, seperti gangguan pertumbuhan gigi seperti maloklusi dan karies gigi, lebih mudah mengalami infeksi telinga, anak terlambat bicara karena otot mulut tidak terstimulasi dengan baik.

Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Beberapa tips berikut untuk menyapih dot dan botol susu pada anak :
  1. Ibu dan ayah harus memiliki kesepakatan dan saling mendukung dalam proses penyapihan ini. Begitupun dukungan penuh dari orang-orang yang biasa mengajak anak seperti nenek atau kakeknya atau pengasuh anak. Komitmen bersama sangatlah diperlukan.
  2. Pilihlah waktu yang tepat, jangan menyapih saat anak sedang sakit atau orangtua sedang banyak kesibukan.
  3. Sampaikan niat Anda pada anak jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi. Tawarkan anak secara lembut dan perhatian untuk mengganti botol susu mereka dengan training cup atau gelas. Bila anak belum mau melakukannya, jangan dimarahi. Selalu tawarkan training cup atau gelas saat anak hendak minum.
  4. Ajak anak untuk memilih training cup atau cangkir sesuai dengan kesukaannya. Jadikan saat ini sebagai peristiwa yang menyenangkan dan sebagai awal mereka mengubah kebiasaannya.
  5. Saat anak lapar atau haus lakukan trik ini. Berikan dua pilihan pada anak, segelas penuh susu atau sedikit susu pada botol susu. Minta anak memilih. Jika anak sedang lapar, tidak ada pilihan, harus mau minum dari gelas. Jika anak Anda menolak gelas, berikan saja botol yang diisi sedikit susu. Jika anak meminta lebih banyak lagi, tawarkan susu yang ada di gelas lagi. Dan jika anak menolak lagi maka Ansa bisa mengganti susu yang ada di botol dengan air dan isi sedikit saja pada botol. 
  6. Jika anak punya kebiasaan minum botol susu sambil tidur, gantilah dengan mainan, boneka, dan membaca cerita sebelum tidur. Dan sebelum anak tidur, Anda dapat memberikan minuman atau makanan supaya ia kenyang sepanjang tidurnya. 
  7. Cara yang efektif adalah dengan menyingkirkan botol susu, pastikan anak melihat saat Anda melakukannya. Katakan pada anak bahwa Anda akan memberikan botol tersebut kepada anak lain yang lebih membutuhkan. Biarkan anak mengerti tujuan Anda dan libatkan anak untuk melakukannya. Ada pula cara lain, seperti sengaja membuang didepan anak sebagai “hukuman” atas ketidakpatuhannya. Jika anak merengek menangis minta botol susu, ajaklah ia bermain, bisa juga berikan makanan padat seperti biskuit agar keinginan untuk minum dari botol dapat terlupakan.
  8. Hal yang paling terpenting yang harus orangtua, keluarga dan pengasuh lakukan adalah memberikan ucapan selamat dan pujian pada anak yang sudah mampu meninggalkan kebiasaan menggunakan botol susunya. Pujian akan membuat anak semakin percaya diri dan merasa disayangi.




Menyapih (weaning) adalah suatu proses berhentinya masa menyusui yang dapat dilakukan secara bertahap atau seketika. Proses menyapih dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak menyusu pada ibunya atau bisa juga sang ibu yang berhenti menyusui anaknya. Atau bisa juga keduanya. Menyapih memang menjadi masalah tersendiri bagi para Ibu. Banyak faktor yang mempengaruhi, bisa karena si ibu yang tidak tega, tidak tahu bagaimana caranya, atau takut dengan amukan si kecil. Sebenarnya tidak ada patokan kapan waktu yang tepat untuk menyapih. Namun WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia anak 2 tahun.

Tips menyapih ASI


Berikut beberapa tips untuk menyapih:
1.      Mantapkan keinginan. Sekali memutuskan untuk menyapih, Anda tidak boleh setengah-setengah. Misalnya sudah bebas menyusui 1 hari, jangan coba-coba menyusui lagi karena si kecil akan mengganggap Anda main-main.
2.      Sampaikan niat Anda pada anak.
Walau tampaknya anak belum mengerti sepenuhnya, namun sebenarnya ia dapat mengerti melalui perilaku dan emosi Anda. Ajak anak bicara pelan-pelan kalau ia sudah besar, sudah tidak pantas untuk menyusu. misal, “Sayang, minum susunya siang ini diganti dengan jus ya…. Rasanya lebih enak, sayang pasti senang. Ini ibu juga minum”
3.     Pilih waktu yang tepat. Sapih anak dalam keadaan sehat. Hindari saat anak sedang sakit, marah atau sedih, karena akan membuat anak semakin tertekan dan tidak bahagia.
4.     Pilih cara yang tepat. Jangan mengoleskan obat merah/memberi plester/jamu-jamuan pada puting susu. Bentuk pemaksaan seperti ini dapat menyebabkan keracunan pada anak sertaakan melukai hati anak, ia akan sedih, rewel, gelisah, yang membuatnya merasa tidak disayang, tidak diperhatikan, yang dikhawatirkan akan mengganggu kematangan emosinya. Sebaiknya lakukan secara perlahan dengan menawarkan makanan atau cemilan dan mengurangi frekwensi pemberian ASI dan.
5.     Lakukan secara bertahap. Proses penyapihan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan secara sengaja tidak memberikan ASI pada jam-jam yang tidak terlalu disukai bayi seperti saat bayi asik bermain. Lalu semakin dikurangi dengan hanya sekali atau dua kali saja menyusui, lama-kelamaan waktu menyusuinya semakin berkurang hingga nantinya bayi mulai terbiasa dengan tidak mengonsumsi ASI. Dimulai dari menyapih saat tidur siang saja karena siang hari lebih mudah mengalihkan perhatian si anak ketimbang di malam hari. Kendala selalu dihadapi adalah saat anak hendak tidur, karena biasanya menjelang tidur adalah saat dimana keinginan menyusu timbul paling kuat. Salah satu solusinya adalah dengan mengajak si anak bermain sebelum ia mau tidur, karena kalau sudah capek, tidurnya lebih cepat dan mudah, Kemudian cobalah bacakan cerita kesukaannya bila ia ingat ASI, sampai sianak tertidur, dengan demikian diharapkan anak tidak merasa ditolak, malah ia akan merasa semakin disayang, dan yang penting tetap dengan kasih.
6.      Alihkan perhatian anak / sibukkan anak dengan hal lain. Bisa dengan membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi, dsb. Hingga anak melupakan saat menyusu. Lakukan aktivitas menyenangkan antara ibu dan anak supaya ia tahu bahwa tak mendapat ASI bukan berarti tak dicintai.
7.      Dukungan suami dan keluarga. Penyapihan dapat berjalan lancar bila ada dukungan positif dari suami. Jika anak terbangun malam hari untuk minta ASI, usahakan agar ayah yang bangun untuk memberikan air putih dan mengajak kembali anak tidur dengan kata-kata yang lembut atau memberikan pelukan sampai anak tertidur. Bila Ibu yang datang menghampiri buah hati, besar kemungkinan anak akan menangis/merengek-rengek minta ASI.

Cara efektif menyapih bayi
8.      Berikan makanan bergizi atau susu formula untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Sediakan selalu buah dan cemilan sehat untuk bayi kita. Jika bayi kita minta menyusu, kita alihkan dengan memberi dia buah atau camilan sehat. Tambah pemberian MP-ASI sebanyak 3-4 kali sehari untuk mengurangi pemberian ASI pada siang hari.





Untuk mencegah kekerasan dan pelecehan pada anak, sebaiknya orang tua harus memberikan pendidikan seks dini sesuai dengan usia anak. Kebanyakan orang tua segan bicara soal seks dengan anak karena menganggap seks adalah sesuatu yang tabu. Padahal, dari sudut pandang psikologi, seks adalah sesuatu yang normal dan alami. Pendidikan seks dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Lebih awal lebih baik dan tentunya harus sesuai dengan porsinya masing-masing. Supaya menghindari rasa canggung, gunakan kesempatan sehari-hari untuk membahas tentang topik ini. Berikut beberapa cara hal yang dapat Anda ajarkan pada anak-anak :
  1.  Ajarkan anak untuk selalu terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Buat anak selalu bercerita perasaannya baik saat senang, sedih, takut dan gembira. Orang tua pun wajib menyediakan waktu bagi anak untuk mendengarkan cerita dan pengalaman yang mereka alami. Sehingga tidak ada hal yang tidak Anda ketahui tentang anak.
  2.  Ajari sikap berani pada anak. Ajarkan anak-anak jangan takut jika diancam seseorang atau diiming-imingi imbalan tertentu. Tegaskan anak untuk berani melaporkan ancaman tindakan kekerasan kepada orang yang dapat melindunginya, seperti orang tua, petugas keamanan, guru di sekolah, Jika anak diperlakukan tidak baik oleh seseorang, dia harus berani menolak.
  3.  Ajari anak untuk membedakan antara orang asing, kenalan, sahabat, teman, kerabat atau saudara. Beritahu mereka agar tidak menerima ajakan atau pemberian dari orang asing, misalnya permen, uang, mainan, boneka, dan sebagainya. Bila ada orang tak dikenal menyentuhnya, sebaiknya segera menghindar atau menjauh dari orang tersebut.
  4. Ajari anak bagian tubuh pribadi. Ajarkan fungsi dan nama dari tiap organ tubuhnya. Tidak masalah jika ia menyebut vagina, penis atau payudara, bahkan Anda perlu menghindari menggunakan istilah untuk menyebut organ vitalnya seperti “burung”, “anu” dan sebagainya karena hal itu malah bisa membuat anak bingung. Pesankan bahwa bagian pribadi yang mereka miliki harus dijaga baik-baik dan tidak boleh dipegang sembarang orang. Jika seseorang mencoba memegangnya, ajarkan anak untuk berteriak dan lari sekencang-kencangnya.
  5. Ajari anak mengenai sentuhan. Hal ini sangatlah penting untuk diketahui anak. Berikan pengertian pada anak tentang sentuhan yang baik dan buruk. Sentuhan yang baik dilakukan secara halus pada bagian tubuh yang boleh disentuh dan dengan tujuan yang jelas , misalnya ciuman saat pamit ke sekolah, pelukan selamat datang dari sekolah, dan juga berjabat tangan dengan orang lain. Sentuhan yang buruk adalah sentuhan yang kasar, memaksa, dan menyentuh bagian yang dilarang. 
  6. Bagian atas yaitu kepala sampai ke pundak dan bagian bawah mulai lutut sampai kaki adalah bagian yang boleh disentuh oleh orang lain. Bagian perut dan dari paha ke lutut adalah bagian abu-abu. Bagian abu-abu artinya anak harus tetap waspada pada maksud dan tujuan sentuhan di bagian ini. Sedangkan bagian dada (perempuan) serta alat kelamin dan pantat adalah bagian yang sama sekali tidak boleh disentuh oleh siapa pun, dan kalau seseorang melakukan sentuhan di area ini, anak harus berani menolak.
  7.  Ajari anak untuk berpakaian yang sopan dan menutup aurat. Jangan berikan mereka perhiasan atau aksesoris yang berlebihan untuk melindungi anak dari kejahatan.
  8. Ajarkan anak tentang nilai-nilai agama. Nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan untuk menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, kebaikan pada anak.
  9. Bagi para orangtua perlu mengawasi semua kegiatan anak. Pengawasan orangtua sangat diperlukan untuk mencegah anak dari segala bentuk kejahatan. Awasi semua kegiatan anak, baik di rumah maupun di luar rumah.



Mengenali Tanda dan Gejala Kekerasan Seksual pada Anak

Akhir-akhir ini berbagai media massa sedang hangat memberitakan tentang berbagai kasus kekerasan pada anak. Secara sederhana kekerasan anak dibagi menjadi kekerasan secara fisik, verbal, emosional dan kekerasan seksual. Kekerasan seksual adalah segala bentuk tindakan atau ancaman tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa, remaja, atau anak yang lebih tua pada anak berusia di bawah 18 tahun. Bentuk kekerasan seksual pun beragam, mulai dari memperlihatkan alat kelamin pada anak, rabaan di wilayah kelamin atau payudara, penetrasi vaginal/anal/oral, dipaksa untuk menjadi obyek pornografi. Anak-anak seringkali menjadi korban kekerasan karena mereka polos dan tak berdaya, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang dewasa.
Pelaku pada umumnya adalah orang-orang terdekat atau yang dikenal korban, meskipun bisa saja dilakukan oleh orang yang baru atau tidak dikenal. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan bujukan (akan diberi permen/uang), tipuan (pura-pura diajak bermain atau untuk melipur pelaku), atau ancaman maupun paksaan dengan kekuatan fisik.
Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Anak dapat berubah perilakunya seperti sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, adanya gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk), menarik diri, tampak murung atau depresi, mudah marah atau tersinggung serta berperilaku regresif, seperti mengisap jempol, mengompol, buang air besar tidak pada tempatnya dan sebagainya. Pada anak usia sekolah terkadang memperlihatkan tanda-tanda perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu. Sedangkan pada remaja dapat timbul kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa. Kadang anak juga menyampaikan adanya keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, lemas, sakit perut, sembelit tanpa sebab yang jelas.
Adanya luka yang tidak sesuai dengan cerita / kejadian, mungkin bisa menjadi petunjuk kearah kekerasan pada anak. Tanda-tanda fisik yang ditemukan dapat berupa memar atau pada alat kelamin atau dubur, nyeri saat kencing atau buang air besar, penyakit kelamin seperti gatal, keluar sekret atau perdarahan pada kelamin, dan memar pada mulut atau sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral. Dampak kekerasan pada anak bisa terjadi pada jangka pendek maupun jangka panjang, dari luka ringan hingga depresi mental, PSTD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dapat terjadi selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup, hingga kematian.
Apabila kekerasan seksual sudah terlanjur dialami oleh anak, sebaiknya orangtua mengupayakan pertolongan medis dan melakukan pemeriksaan fisik terkait kemungkinan cedera yang dialami. Selain itu orangtua juga dapat mengupayakan pertolongan psikologis pada anak, melalui konseling maupun proses psikoterapi jika memang dibutuhkan. 

 Sebagai tindakan pencegahan terhadap kekerasan seksual pada anak-anak, dapat dilakukan pencegahan dengan cara memberikan pengertian pada anak agar tidak mengikuti bujukan atau rayuan untuk ikut bermain, pulang ke rumah, atau jalan-jalan bersama dari orang yang tidak dikenal. Selain itu orangtua hendaknya mulai memberikan pendidikan seks yang disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak sehingga diharapkan dapat meminimalkan risiko terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Epistaksis, yang lebih dikenal sebagai mimisan adalah suatu keadaan dimana darah keluar dari hidung secara tiba-tiba akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada hidung.  Anak-anak kerap mengalami mimisan karena struktur selaput lendir dan pembuluh darah di hidung lebih tipis dan sensitif sehingga lebih rentan mengalami  gangguan. Gangguan mimisan umumnya akan berkurang seiring bertambahnya umur karena dengan semakin bertambahnya umur, pembuluh darah dan selaput lendir di hidung sudah semakin kuat, hingga tak mudah pecah.
Penyebab mimisan pada anak dapat berupa trauma dan non trauma. Trauma dapat disebabkan oleh adanya benturan atau gesekan yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada hidung. Penyebab non trauma bisa berupa kelainan pada septum hidung. Selain itu mimisan juga dapat terjadi pada anak dengan riwayat alergi. Karena alergi akan memicu anak untuk mengucek hidung secara berlebihan, serta terjadinya bersin-bersin akan mempermudah pecahnya pembuluh darah di hidung. Mimisan juga dapat terjadi akibat perbedaan suhu udara yang drastis misalnya berpindah dari udara panas lalu masuk ke ruangan ber-AC atau sebaliknya. Flu, membuang ingus terlalu keras serta, infeksi seperti sinusitis, demam berdarah, tifus serta campak juga dapat menyebabkan terjadinya mimisan.
Mimisan umumnya tidak berbahaya selama mimisan tersebut berhenti spontan dengan perdarahan yang minimal, anak terlihat sehat dan aktif serta tidak adanya keluhan sesak nafas. Meski pada umumnya kasus mimisan tidak berbahaya, orangtua hendaknya waspada jika frekuensi mimisan pada anak cukup sering terjadi, karena ada kemungkinan anak mengidap penyakit berbahaya seperti ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), demam berdarah, leukemia, talasemia berat, hemofilia atau tumor pada hidung.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah pertolongan pertama untuk mengatasi mimisan :
  1. Jangan panik, posisikan anak duduk atau posisi kepala lebih tinggi dari jantung, jangan dibaringkan untuk mencegah darah kembali masuk ke hidung.
  2. Kemudian minta anak untuk bernafas melalui mulut.
  3. Tekan atau jepit semua bagian lunak hidung secara bersama-sama dengan jempol dan jari telunjuk. Lakukan hal tersebut selama 5 menit, ulangi beberapa kali sampai pendarahan berhenti.
  4. Kompreskan es batu yang sudah diremukkan dan dibungkus dengan kain pada hidung dan pipi.

Tanda bahaya yang harus diwaspadai sehingga Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter atau rumah sakit terdekat yaitu jika setelah 15 menit setelah pertolongan pertama masih terjadi mimisan, atau anak tampak pucat, berkeringat dingin atau kurang berespons terhadap lingkungan, jumlah darah yang keluar sangat banyak, anak menjadi sesak dan sulit bernafas, serta mimisan yang terjadi setelah adanya benturan yang keras pada daerah hidung/wajah.

Tips yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya mimisan pada anak, seperti :
  1. Jangan biarkan anak mengorek hidungnya, bila sedang pilek jangan mengeluarkan ingus terlalu keras
  2. Jauhkan anak dari asap rokok ataupun bahan kimia lainnya serta pencetus alerginya
  3. Awasi anak saat bermain, untuk mencegah terjadinya kecelakaan, serta jangan sampai anak memasukkan benda kecil ke dalam lubang hidung.
  4. Hindari anak dari cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  5. Perbanyak konsumsi buah dan sayur terutama saat anak sakit.


Konstipasi, istilah medis sembelit,  atau susah buang air besar pada bayi merupakan salah satu masalah yang sering dikeluhkan oleh para orangtua. Orangtua pun merasa cemas, takut dan panik dengan keadaan tersebut. Konstipasi adalah kesulitan buang air besar yang menetap lebih dari dua minggu serta telah menimbulkan gangguan seperti rasa tidak nyaman di anus, nyeri saat mengedan ataupun enkoporesis (keadaan dimana pengeluaran tinja sedikit-sedikit berbentuk cair akibat konstipasi yang telah berlangsung lama).
Pola buang air besar pada anak bervariasi, sangat bergantung pada umur, pola makanan, dan kebiasaan anak. Bayi yang baru lahir normalnya buang air besar empat sampai enam kali sehari pada minggu–minggu awal. Frekuensinya akan berkurang seiring bertambahnya usia, dimana setelah usia empat tahun sudah sama polanya dengan orang dewasa yaitu sekali sehari. Bayi yang mendapatkan ASI ekslusif, frekuensi buang air besarnya lebih sering dan konsistensi tinjanya lebih cair daripada bayi yang diberikan susu formula, hal ini karena ASI memiliki kadar laktosa yang tinggi dan prebiotik FOS (frukto-oligosakarida) dan GOS (galakto-oligosakarida) yang merupakan serat yang larut pada air yang dapat mencegah terjadinya konstipasi. 
Ada berbagai penyebab konstipasi pada bayi seperti kekurangan cairan tubuh, pengeluaran cairan yang berlebihan, pemberian obat-obatan tertentu, misalnya antibiotik, obat flu, atau obat-obatan lainnya yang memberi efek samping sembelit. Jika bayi sembelit terjadi satu minggu pertama kelahiran, harus dicurigai apakah ada kelainan anatomi bawaan sejak lahir, misalnya akibat tidak adanya saraf pada sebagian segmen usus (Hirschprung) yang mengakibatkan gerakan usus terganggu sehingga tinja akan tertahan pada segmen usus tersebut.
Akibat susah buang air besar, bayi menjadi rewel dan menangis karena kesakitan. Gejala lainnya seperti perut kembung, kadang disertai muntah, bila diraba perut bayi terasa keras. Akibat tinja yang keras, saat buang air besar terdapat darah segar pada bagian luar tinja, serta adanya nyeri di sekitar anus yang dikarenakan adanya luka pada anus. Bila bayi tampak tenang tidak rewel, bisa kentut, tidak ada kembung atau muntah, serta tidak ada panas badan, maka orangtua tidak perlu khawatir, dan tetap bersabar hingga bayi bisa buang air besar kembali.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi sembelit / konstipasi pada bayi seperti :
  1. Perbanyak pemberian ASI dan air putih. Jika bayi mendapat susu formula, sebaiknya hentikan sementara pemberian susu formula atau ganti dengan susu formula nabati.
  2. Pijat bayi pada bagian perut secara lembut searah dengan jarum jam dengan menggunakan minyak telon baby oil. Lakukan pemijatan dari arah kanan bawah ke kanan atas dilanjutkan ke kiri atas ke kiri bawah.
  3. Gerakkan dengan lembut kaki bayi dengan gerakan seperti mengayuh sepeda untuk merangsang gerakan usus.
  4. Pada bayi diatas 6 bulan yang sudah diberikan makanan pendamping ASI, dapat mengalami konstipasi akibat kesulitan mencerna makanan padat, tindakan yang dilakukan adalah memberikan makanan yang lebih lunak dari biasanya sehingga lebih mudah dicerna.
  5. Pada anak yang sudah mulai makan, berikan makanan mengandung tinggi karbohidrat yang tak dicerna (glukosa polimer), seperti sereal dan beras; tinggi serat (fiber), seperti, buah-buahan (sirsak, pepaya, jeruk, alpokat) dan sayuran hijau. Pisang sebaiknya tak diberikan selama mengalami sembelit karena mengandung bahan pektin yang dapat menyebabkan tinja lebih keras.
  6. Jangan sembarangan memberi obat pencahar pada bayi, konsultasikan tentang masalah konstipasi tersebut dengan dokter.




Berikut video tentang inisiasi menyusui dini

(courtesy : youtube.com)


Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kalimat tersebut sangat sesuai dengan kondisi tubuh menghadapi musim hujan sekarang ini. Untuk mencegah penyakit yang bertebaran sebaiknya persiapkan payung sebelum hujan. Seperti yang diketahui musim hujan merupakan musim yang rawan penyakit, seperti demam, flu dan pilek serta penyakit lain yang mudah menular. Maka dari itu musim hujan memang harus selalu diperhatikan, terutama untuk menjaga kesehatan anak Anda. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan anak. Berikut ulasannya.

tips mencegah anak sakit saat musim hujan

  1. Pola makan yang teratur. Cara sederhana untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah membiasakan anak untuk makan teratur, tentu saja dengan menu yang bergizi dan seimbang. Perbanyak konsumsi buah dan sayur, terutama yang mengandung vitamin C. Bila diperlukan, anak juga dapat diberikan suplemen vitamin untuk menjaga kekebalan tubuh dan meningkatkan nafsu makan.
  2. Istirahat yang cukup. Biasakan anak tidur siang, karena baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan istirahat, anak akan terhindar dari kelelahan dan sistem kekebalan tubuh akan bekerja dengan optimal.
  3. Olahraga. Ajak anak untuk melakukan aktivitas fisik yang membuatnya lebih banyak menggerakkan tubuh, seperti senam ringan, melompat atau berlari-lari kecil.
  4. Membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan mana atau minum serta sehabis buang air kecil/air besar, setelah bermain dan setelah memegang binatang peliharaan.
  5. Minumlah hanya minum air matang atau  air yang sudah mendidih, mengkonsumsi makanan yang telah dimasak.  Walau musim hujan, tubuh terus memerlukan cairan supaya terus kuat melakukan aktivitas. Tutup makanan yang disajikan dengan tudung saji.
  6. Hindari membeli makanan di sembarang tempat. Umumnya saat musim hujan, kemungkinan makanan dapat tercemar oleh kumam patogen yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Apalagi cara pengolahan dan penyajiannya tidak higienis. Sebaiknya konsumsi makanan yang kita olah sendiri untuk menjamin kebersihannya, atau jika membeli makanan jadi, usahakan pada tempat yang Anda percayai terjamin kebersihannya.
  7. Mandi menggunakan air hangat, dan segera mandi bila kehujanan. Pada musim hujan, cuaca biasanya lebih dingin, sehingga mandi dengan air hangat dapat membuat tubuh lebih segar dan mencegah hipotermia. Bila anak kehujanan, segera mandi mereka sehingga terhindar dari infeksi kuman yang terdapat pada air hujan.
  8. Menjaga kebersihan lingkungan. Musim hujan sangat identik dengan penyakit, terutama demam berdarah. Penyebabnya adalah banyaknya genangan air sehingga membuat nyamuk cepat berkembang biak. Untuk itu sebaiknya Anda tidak bisa lupa selalu rajin membersihkan tempat tinggal rajin. Tidak menumpuk sampah serta tutup area genangan air. Lindungi anak dengan memberikan losion anti nyamuk untuk mencegah gigitan nyamuk.
  9. Hindari kontak dengan orang yang sakit. Sistem kekebalan tubuh pada anak tidak sebaik orang dewasa. Mereka sangat rentan terinfeksi oleh orang lain yang berada di lingkungannya. Sehingga untuk mencegah anak terinfeksi, sebaiknya hindari mereka dengan orang yang sedang sakit. Bila orangtua yang mengalami sakit, dianjurkan menggunakan masker selama kontak dengan anak, dan rajinlah mencuci tangan untuk menghindari tertularnya bakteri atau virus kepada anak.
  10. Lakukan vaksinasi untuk anak-anak Anda. Bawa anak-anak Anda ke dokter dan mencari rekomendasi untuk mendapatkan vaksinasi yang tepat guna meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka terhadap penyakit anak pada umumnya. Beberapa vaksinasi yang dianjurkan untuk anak seperti vaksin tifoid, influenza, MMR dan hepatitis A.




pertolongan pertama mimisan pada anak

Epistaksis, yang lebih dikenal sebagai mimisan adalah suatu keadaan dimana darah keluar dari hidung secara tiba-tiba akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada hidung.  Anak-anak kerap mengalami mimisan karena struktur selaput lendir dan pembuluh darah di hidung lebih tipis dan sensitif sehingga lebih rentan mengalami  gangguan. Gangguan mimisan umumnya akan berkurang seiring bertambahnya umur karena dengan semakin bertambahnya umur, pembuluh darah dan selaput lendir di hidung sudah semakin kuat, hingga tak mudah pecah.
Penyebab mimisan pada anak dapat berupa trauma dan non trauma. Trauma dapat disebabkan oleh adanya benturan atau gesekan yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada hidung. Penyebab non trauma bisa berupa kelainan pada septum hidung. Selain itu mimisan juga dapat terjadi pada anak dengan riwayat alergi. Karena alergi akan memicu anak untuk mengucek hidung secara berlebihan, serta terjadinya bersin-bersin akan mempermudah pecahnya pembuluh darah di hidung. Mimisan juga dapat terjadi akibat perbedaan suhu udara yang drastis misalnya berpindah dari udara panas lalu masuk ke ruangan ber-AC atau sebaliknya. Flu, membuang ingus terlalu keras serta, infeksi seperti sinusitis, demam berdarah, tifus serta campak juga dapat menyebabkan terjadinya mimisan.
Mimisan umumnya tidak berbahaya selama mimisan tersebut berhenti spontan dengan perdarahan yang minimal, anak terlihat sehat dan aktif serta tidak adanya keluhan sesak nafas. Meski pada umumnya kasus mimisan tidak berbahaya, orangtua hendaknya waspada jika frekuensi mimisan pada anak cukup sering terjadi, karena ada kemungkinan anak mengidap penyakit berbahaya seperti ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), demam berdarah, leukemia, talasemia berat, hemofilia atau tumor pada hidung.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah pertolongan pertama untuk mengatasi mimisan :
  1. Jangan panik, posisikan anak duduk atau posisi kepala lebih tinggi dari jantung, jangan dibaringkan untuk mencegah darah kembali masuk ke hidung.
  2. Kemudian minta anak untuk bernafas melalui mulut.
  3. Tekan atau jepit semua bagian lunak hidung secara bersama-sama dengan jempol dan jari telunjuk. Lakukan hal tersebut selama 5 menit, ulangi beberapa kali sampai pendarahan berhenti.
  4. Kompreskan es batu yang sudah diremukkan dan dibungkus dengan kain pada hidung dan pipi.

Tanda bahaya yang harus diwaspadai sehingga Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter atau rumah sakit terdekat yaitu jika setelah 15 menit setelah pertolongan pertama masih terjadi mimisan, atau anak tampak pucat, berkeringat dingin atau kurang berespons terhadap lingkungan, jumlah darah yang keluar sangat banyak, anak menjadi sesak dan sulit bernafas, serta mimisan yang terjadi setelah adanya benturan yang keras pada daerah hidung/wajah.

Tips yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya mimisan pada anak, seperti :
  • Jangan biarkan anak mengorek hidungnya, bila sedang pilek jangan mengeluarkan ingus terlalu keras
  • Jauhkan anak dari asap rokok ataupun bahan kimia lainnya serta pencetus alerginya
  • Awasi anak saat bermain, untuk mencegah terjadinya kecelakaan, serta jangan sampai anak memasukkan benda kecil ke dalam lubang hidung.
  • Hindari anak dari cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur terutama saat anak sakit.

Merawat gigi dan gusi anak sebaiknya diterapkan sedini mungkin bahkan sebelum giginya mulai tumbuh. Perawatan gigi pada anak dapat dimulai pada saat pertama kali tumbuh gigi susu, yaitu pada usia anak memasuki bulan keenam, perawatan yang dilakukan dapat melalui dua cara yaitu perawatan gusi dan perawatan gigi susu.
Perawatan Gusi. Tanda gusi yang sehat adalah berwarna merah muda, permukaan gusi terdapat bintik bintik, bagian tepi gusi tidak mengalami pembengkakan, dan gusi tidak mudah berdarah. Perawatan yang sederhana dapat anda lakukan dengan menyeka gusi anak (membersihkan gusi anak dengan kain halus) setelah minum asi atau susu formula. Caranya adalah dengan menggunakan kain halus yang dibasahi dengan air hangat, kemudian dibalutkan ke ibu jari anda. Sebaiknya dilakukan setelah anak makan, apabila tidak memungkinkan anda dapat menjadwalkan dengan rutin yaitu dua kali sehari pada pagi dan menjelang tidur.
Perawatan Gigi Susu. Gigi susu mulai tumbuh biasanya pada usia 6 bulan, namun jangan terlalu khawatir karena ada beberapa anak yang tumbuh gigi bahkan sampai usia 15 bulan. Ajari anak kebiasaan menggosok gigi dua kali sehari, terutama setelah makan dan sebelum anak tidur. Lakukan sikat lembut di bagian dalam dan luar dari setiap gigi anak Anda serta lidahnya juga untuk membersikan bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut. Gunakan sikat gigi anak dengan kepala yang lebih kecil dan bulu sikat yang lembut sehingga tidak melukai gusinya. Pasta gigi sebaiknya tidak digunakan sebelum anak berusia 18 bulan. Setelah itu coba gunakan pasta gigi dengan kadar fluoride rendah / pasta gigi khusus anak-anak dengan bahan yang tidak berbahaya bila tertelan. Gunakan pasta gigi secukupnya saja, hanya sebesar kacang tanah, disesuaikan dengan umur anak.  Kelebihan flouride pada saat pembentukan gigi dapat mengakibatkan masalah yang disebut fluorosis. Gigi anak menjadi berwarna coklat dengan bintik-bintik putih permanen.
Makanan yang sangat mempengaruhi kerusakan gigi lebih buruk di antaranya permen, jus, coklat, es kim dan makanan bertepung seperti roti, biskuit, pasta, dan sebagainya dapat menyebabkan gigi berlubang dan rusak. Jangan di biasakan anak Anda tidur sambil minum susu formula, jus, cairan manis. Cairan manis dapat menempel ke gigi dan merupakan makanan bagi bakteri yang hidup di mulut. Bakteri menghasilkan asam yang dapat memicu kerusakan gigi dan gigi berlubang. Biasakan pula untuk memberi minum air putih setelah minum susu atau makanan pendamping ASI, agar dapat membantu untuk membersihkan sisa makanan yang tertinggal di sela sela gigi.
Biasakan anak untuk mengunyah makanan menggunakan gigi geraham kanan dan kiri secara seimbang. Tujuannya agar pertumbuhan rahang sempurna. Jangan biarkan anak menggigit dan merobek kemasan jajanan memakai gigi karena selain menimbulkan nyeri, hal ini dapat membuat gigi anak goyang.
Kunjungi dokter gigi secara rutin minimal sekali dalam 6 bulan, sehingga apabila terjadi gangguan bisa segera terdeteksi dan tertangani. Pencegahan dini dapat membuat anak terhindar dari masalah gigi dan mulut yang lebih serius.


Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah pijat bayi. Bayi yang dipijat secara berkala mempunyai pertumbuhan dan perkembangan sistem motorik yang lebih baik, memperkuat sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah bayi, pengenalan terhadap lingkungannya serta menenangkan sehingga membantu bayi tidur lebih nyenyak.
Pijat bayi akan membuat penurunan hormon kortisol, yaitu hormon penyebab stres. Itulah sebabnya bayi yang rutin dipijat akan menjadi lebih riang, aktif dan jarang menangis. Hormon oksitosin atau hormon cinta akan meningkat produksinya sehingga dapat menimbulkan rasa nyaman dan kasih sayang serta mempererat ikatan emosional antara Anda dan bayi Anda. Bila bayi Anda memiliki masalah berat badan, pemijatan secara teratur akan menstimulasi hormon pertumbuhan yang berpengaruh untuk meningkatkan berat badan bayi. Pemijatan dapat dilakukan setiap hari pada bayi berusia kurang dari 1 tahun. Tunggu setidaknya 30 menit setelah menyusui sebelum memijat bayi. Saat memijat, putarkan musik yang menenangkan dan redupkan lampu ruangan serta jaga kontak mata dengan bayi dan bicaralah dengan suara yang menenangkan.

Beberapa persiapan yang diperlukan sebelum memulai pemijatan.
1. Pilih waktu pemijatan saat Anda santai dan tidak tergesa-gesa dan tidak akan terputus di tengah jalan.
2.   Siapkan perlengkapan pijat seperti minyak untuk memijat (baby oil, minyak telon atau minyak nabati), alas, popok bersih dan pakaian ganti.
3. Lepas gelang, cincin dan potong kuku-kuku jari Anda yang panjang agar tidak menyakiti kulit bayi Anda.
4. Letakkan alas atau handuk lembut di atas permukaan yang datar dan lepaskan pakaian bayi. Anda juga dapat meletakkan bayi di pangkuan Anda. Letakkan bayi dengan posisi telentang saat Anda memijat bagian depan bayi Anda, lalu tengkurap saat memijat bagian belakang.
5.  Pijat bayi dengan lembut namun tegas dengan telapak tangan atau jari. Jangan terlalu banyak memberikan tekanan pada tubuh bayi yang rapuh dan hindari daerah tulang belakang.
6.  Saat memijat, putarkan musik yang menenangkan dan redupkan lampu ruangan.
7.  Sebelum memijat, mintalah izin kepada bayi dengan cara membelai wajahnya sambil mengajak bicara.

Setelah melakukan persiapan, kini saatnya memulai melakukan pemijatan untu bayi Anda. Mulailah dari kaki, lengan, dilanjutkan pada dada, perut, punggung hingga bagian muka, atau sesuai dengan keinginan bayi Anda.
·   Kaki. Mulailah dengan memegang kaki bayi pada pangkal paha seperti cara memegang pemukul softball. Gerakkan tangan ke bawah secara bergantian seperti memerah susu dan putar. Usap kaki bayi dengan tekanan lembut dari pangkal paha hingga akhir.
·    Telapak Kaki. Ambil salah satu telapak kakinya dan secara lembut putarlah beberapa kali ke arah kiri, lalu ulangi lagi ke arah kanan. Setalah itu, pijatlah punggung telapak kakinya mulai dari arah mata kaki ke arah jari-jari kaki.
·     Tumit. Gunakan ibu jari Anda untuk memijat dengan membentuk lingkaran pada tumit bayi Anda.
·    Jari Kaki. Peganglah jari mungilnya satu per satu menggunakan ibu jari dan telunjuk Anda, kemudian secara lembut tariklah searah dengan jarinya sehingga jari-jari Anda terlepas di ujung jari kaki bayi. Lakukan untuk kesepuluh jari kakinya.
·   Lengan. Hampir sama dengan gerakan pijat kaki, ambil salah satu lengannya dan lakukan gerakan seperti memerah susu, mulai dari ketiaknya, terus hingga ke pergelangan tangan. Kemudian pegang telapak tangannya, dan putar-putar secara perlahan beberapa kali, ke arah kanan dan kiri.
·  Perut. Pijat perut bayi dari atas ke bawah seperti gerakan mengayuh sepeda. Pijat perut mulai bagian kiri atas ke bawah dengan jari-jari tangan membentuk huruf I lalu L terbalik.
·    Dada. Katupkan kedua telapak tangan Anda, letakkan pada dadanya. Buat gerakan ke atas sampai dengan bawah leher lalu ke samping kiri-kanan di atas tulang selangka membentuk gambar jantung lalu kembali ke ulu hati. Gerakan diagonal di dada (huruf X) dari kiri ke kanan.
·    Muka. Letakkan ibu jari diantara alis mata si bayi. Pijat dengan ibu jari secara lembut pada alis dan di atas kelopak mata. Pijat dari pertengahan alis turun ke bawah melalui samping lipatan hidung.
·    Punggung. Posisikan bayi pada posisi tengkurap. Buatlah pijatan lembut melingkar dengan kedua tangan, dimulai dari bawah lehernya sampai ke pantat bayi.
Setelah pemijatan selesai, selubungi bayi dengan handuk bersih dan serta peluklah bayi Anda. Kemudian bersihkan tubuh bayi. Jika pemijatan dilakukan pagi hari, bisa dilanjutkan dengan memandikan bayi, namun jika dilakukan pada malam hari, cukup bersihkan tubuh bayi dengan air hangat.

More

Whats Hot