Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Gigi dan Mulut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Gigi dan Mulut. Tampilkan semua postingan
Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan anak yang masih menggunakan botol susu untuk minum. Apalagi jika umur anak sudah besar, atau sudah ada gangguan pada gigi mereka. Para orangtua seringkali dibuat bingung meskipun berbagai cara dan rayuan telah dilakukan. Semakin besar usia anak, maka semakin sulit untuk melakukan penyapihan dot atau botol susu.
Penggunaan dot pada awal-awal kehidupan sering dikaitkan dengan keinginan yang tinggi dari bayi untuk selalu menghisap sesuatu. Penggunaan dot dianggap bermanfaat, karena akan menenangkan bayi serta memberikan rasa nyaman pada keadaan-keadaan tertentu seperti keinginan untuk mulai tidur, rasa nyeri pada waktu gigi tumbuh, dipisahkan dari ibunya, menurunkan frekuensi menghisap jari. Namun  pada umur setahun, seorang anak sudah harus menghentikan penggunaan dot untuk minum, dan mulai dialihkan ke penggunaan gelas atau cangkir.
Penggunaan dot pada anak jika terlampau lama akan menimbulkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya, seperti gangguan pertumbuhan gigi seperti maloklusi dan karies gigi, lebih mudah mengalami infeksi telinga, anak terlambat bicara karena otot mulut tidak terstimulasi dengan baik.

Tips Menghentikan Balita Minum dari Botol Susu

Beberapa tips berikut untuk menyapih dot dan botol susu pada anak :
  1. Ibu dan ayah harus memiliki kesepakatan dan saling mendukung dalam proses penyapihan ini. Begitupun dukungan penuh dari orang-orang yang biasa mengajak anak seperti nenek atau kakeknya atau pengasuh anak. Komitmen bersama sangatlah diperlukan.
  2. Pilihlah waktu yang tepat, jangan menyapih saat anak sedang sakit atau orangtua sedang banyak kesibukan.
  3. Sampaikan niat Anda pada anak jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi. Tawarkan anak secara lembut dan perhatian untuk mengganti botol susu mereka dengan training cup atau gelas. Bila anak belum mau melakukannya, jangan dimarahi. Selalu tawarkan training cup atau gelas saat anak hendak minum.
  4. Ajak anak untuk memilih training cup atau cangkir sesuai dengan kesukaannya. Jadikan saat ini sebagai peristiwa yang menyenangkan dan sebagai awal mereka mengubah kebiasaannya.
  5. Saat anak lapar atau haus lakukan trik ini. Berikan dua pilihan pada anak, segelas penuh susu atau sedikit susu pada botol susu. Minta anak memilih. Jika anak sedang lapar, tidak ada pilihan, harus mau minum dari gelas. Jika anak Anda menolak gelas, berikan saja botol yang diisi sedikit susu. Jika anak meminta lebih banyak lagi, tawarkan susu yang ada di gelas lagi. Dan jika anak menolak lagi maka Ansa bisa mengganti susu yang ada di botol dengan air dan isi sedikit saja pada botol. 
  6. Jika anak punya kebiasaan minum botol susu sambil tidur, gantilah dengan mainan, boneka, dan membaca cerita sebelum tidur. Dan sebelum anak tidur, Anda dapat memberikan minuman atau makanan supaya ia kenyang sepanjang tidurnya. 
  7. Cara yang efektif adalah dengan menyingkirkan botol susu, pastikan anak melihat saat Anda melakukannya. Katakan pada anak bahwa Anda akan memberikan botol tersebut kepada anak lain yang lebih membutuhkan. Biarkan anak mengerti tujuan Anda dan libatkan anak untuk melakukannya. Ada pula cara lain, seperti sengaja membuang didepan anak sebagai “hukuman” atas ketidakpatuhannya. Jika anak merengek menangis minta botol susu, ajaklah ia bermain, bisa juga berikan makanan padat seperti biskuit agar keinginan untuk minum dari botol dapat terlupakan.
  8. Hal yang paling terpenting yang harus orangtua, keluarga dan pengasuh lakukan adalah memberikan ucapan selamat dan pujian pada anak yang sudah mampu meninggalkan kebiasaan menggunakan botol susunya. Pujian akan membuat anak semakin percaya diri dan merasa disayangi.

Merawat gigi dan gusi anak sebaiknya diterapkan sedini mungkin bahkan sebelum giginya mulai tumbuh. Perawatan gigi pada anak dapat dimulai pada saat pertama kali tumbuh gigi susu, yaitu pada usia anak memasuki bulan keenam, perawatan yang dilakukan dapat melalui dua cara yaitu perawatan gusi dan perawatan gigi susu.
Perawatan Gusi. Tanda gusi yang sehat adalah berwarna merah muda, permukaan gusi terdapat bintik bintik, bagian tepi gusi tidak mengalami pembengkakan, dan gusi tidak mudah berdarah. Perawatan yang sederhana dapat anda lakukan dengan menyeka gusi anak (membersihkan gusi anak dengan kain halus) setelah minum asi atau susu formula. Caranya adalah dengan menggunakan kain halus yang dibasahi dengan air hangat, kemudian dibalutkan ke ibu jari anda. Sebaiknya dilakukan setelah anak makan, apabila tidak memungkinkan anda dapat menjadwalkan dengan rutin yaitu dua kali sehari pada pagi dan menjelang tidur.
Perawatan Gigi Susu. Gigi susu mulai tumbuh biasanya pada usia 6 bulan, namun jangan terlalu khawatir karena ada beberapa anak yang tumbuh gigi bahkan sampai usia 15 bulan. Ajari anak kebiasaan menggosok gigi dua kali sehari, terutama setelah makan dan sebelum anak tidur. Lakukan sikat lembut di bagian dalam dan luar dari setiap gigi anak Anda serta lidahnya juga untuk membersikan bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut. Gunakan sikat gigi anak dengan kepala yang lebih kecil dan bulu sikat yang lembut sehingga tidak melukai gusinya. Pasta gigi sebaiknya tidak digunakan sebelum anak berusia 18 bulan. Setelah itu coba gunakan pasta gigi dengan kadar fluoride rendah / pasta gigi khusus anak-anak dengan bahan yang tidak berbahaya bila tertelan. Gunakan pasta gigi secukupnya saja, hanya sebesar kacang tanah, disesuaikan dengan umur anak.  Kelebihan flouride pada saat pembentukan gigi dapat mengakibatkan masalah yang disebut fluorosis. Gigi anak menjadi berwarna coklat dengan bintik-bintik putih permanen.
Makanan yang sangat mempengaruhi kerusakan gigi lebih buruk di antaranya permen, jus, coklat, es kim dan makanan bertepung seperti roti, biskuit, pasta, dan sebagainya dapat menyebabkan gigi berlubang dan rusak. Jangan di biasakan anak Anda tidur sambil minum susu formula, jus, cairan manis. Cairan manis dapat menempel ke gigi dan merupakan makanan bagi bakteri yang hidup di mulut. Bakteri menghasilkan asam yang dapat memicu kerusakan gigi dan gigi berlubang. Biasakan pula untuk memberi minum air putih setelah minum susu atau makanan pendamping ASI, agar dapat membantu untuk membersihkan sisa makanan yang tertinggal di sela sela gigi.
Biasakan anak untuk mengunyah makanan menggunakan gigi geraham kanan dan kiri secara seimbang. Tujuannya agar pertumbuhan rahang sempurna. Jangan biarkan anak menggigit dan merobek kemasan jajanan memakai gigi karena selain menimbulkan nyeri, hal ini dapat membuat gigi anak goyang.
Kunjungi dokter gigi secara rutin minimal sekali dalam 6 bulan, sehingga apabila terjadi gangguan bisa segera terdeteksi dan tertangani. Pencegahan dini dapat membuat anak terhindar dari masalah gigi dan mulut yang lebih serius.


More

Whats Hot